Tampilkan postingan dengan label CERITA ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA ANAK. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Januari 2013

Hadiah Besar Bagi Anak yang Berbakti kepada Bapaknya



Dari Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari bapaknya, dia berkata, “Di zaman dulu hiduplah seorang dari Bani Israil dengan empat orang anaknya. Suatu ketika dia jatuh sakit. Salah seorang dari mereka berkata kepada saudaranya, ”Kalian mau merawat ayah, padahal kalian tidak akan mendapatkan warisan dari ayah? Saya saja yang merawatnya. Biarlah saya tidak mendapatkan warisan.”

Maka si anak tersebut merawat ayahnya hingga meninggal, lalu menguburnya. Benar,dia tidak mendapatkan warisan sedikitpun.
Suatu ketika, dia bermimpi di datangi seorang miskin namun berlagak sombong. Orang miskin tadi berkata, “Datanglah ke tempat anu, lalu galilah, niscaya kamu akan menemukan seratus dinar uang. Setelah itu ambillah!”
Dalam mimpinya si anak tadi bertanya, “Uang tersebut berbarakah tidak?”
Orang tadi menjawab, “Tidak!”
Keesokkan paginya si anak tadi mencritakan kejadian tersebut kepada istrinya. Istrinya berkata, “Pergi ambil saja uang itu. Uang itu akan berbarakah kalau sebagian kau belikan pakaian untukku dan sebagaimana kita gunakan untuk belanja hidup kita.”
Dia enggan mengambilnya,dan menjawab perkataan istrinya, “Saya tidak mau mengambilnya sesuatu yang tidak berbarakah.”
Tatkala malam tiba, dia tidur, dan bermimpi yang sama. Berkatalah si miskin tadi dalam mimpi tersebut, “Datanglah ke tempat anu, dan ambillah sepuluh dinar!”
Dalam mimpi si anak tadi bertanya, “Uang tersebut berbarakah atau tidak?”
Orang tadi menjawab, “Tidak.”
Keesokan paginya si anak tadi menceritakan kejadian tersebut pada istrinya. Istrinya menyampaikan perkataan sebagaimana disampingkan pada mimpi yang pertama. Namun si anak tadi pun tetap tidak mau mengambilnya.
Kemudian pada malam ketiga diam bermimpi yang sama. Berkatalah si miskin tadi dalam mimpinya tersebut, “Datanglah ke tempat anu, dan ambillah satu dinar.”
Dalam mimpi si anak tadi bertanya, “ Uang tersebut berbarakah atau tidak?”
Orang tadi menjawab, “Ya, berbarakah.”
Si anak tadi berkata, “Kalau begitu, saya mau mengambilnya.”
Keesokan paginya si anak pergi ke tempat yang ditunjukan dalam mimpi. Benar, dia menemukan uang dinar itu di sana, lalu di ambil.
Sepulang dari mengambil uang, dia bertemu dengan seorang pencari ikan yang membawa dua ekor ikan. Si anak menawar, “Berapa harganya?”
Dia menjawab, “Satu dinar.”
Akhirnya si anak membeli dua ekor ikan tesebut dan membawanya pulang. Sampai di rumah ikan tersebut dibersihkan oleh istrinya.
Tatkala si membedah perut ikan yang pertama, dia menemukan sebutir intan di dalamnya. Sebutir intan yang tidak ada taranya.
Demikian pula dengan ikan yang satunya lagi. Di dalam perutnya ternyata juga terdapat intan yang sama seperti pada ikan yang pertama.
Anak tadi berkata, “Intan ini dicari-cari oleh para raja. Mereka akan mencari dimana pun berada dan berani membayarnya berapapun harganya. Karena intan seperti ini memang tak ada duanya di dunia ini.”
Kabar ditemukannya intan tersebut samapi kepada raja. Raja berkata, “Tunjukkan intan tersebut kepada saya! Saya akan membelinya.”
Si anak tadi memenuhi permintaan raja. Dibawanya intan tersebut kepada raja. Tatkala melihat intan tersebut, Allah menjadikan raja terkagum-kagum dengan keindahannya. Raja berkata, “ Berapa harga intan ini?”
Si anak menjawab, “Emas tidak boleh kurang dari tiga puluh angkutan kuda.”
Raja menjawab, “Saya siap membelinya.”
Lalu para pengawal raja menyediakan emas sebanyak tiga puluh angkutan kuda untuk membayar intan milik anak tadi. Kemudian, raja memandangi intan yang baru saja dibelinya. Dia sangat terkagum-kagum. Raja berkata kepada pengawalnya, “Intan ini akan lebih indah bila anda sepasang. Mintakan pasangannya!”
Lalu para pengawalnya mendatangi anak tadi untuk membeli intan yang satunya. Para pengawal berkata kepada anak tadi, “Apakah kamu mempunyai intan pasangannya? Kalau ada, intan pasangannya nanti akan kami beli sekalian dengan harga yang berlipat-lipat.”
Anak tadi menjawab, “Benarkah?” Mereka menjawab, “Benar.”
Intan yang menjadi pasangannya itu dibawa dan ditunjukkan kepada raja. Tatkala melihat intan pasangannya itu, raja tertarik sekali, lalu berkata, “Saya mau membelinya.”
Lalu para pengawalnya membeli intan tersebut dengan harga yang sama seperti intan yang satunya.

Sabtu, 05 Januari 2013

TIDAK BOLEH SOMBONG

OLEH: TRISAKTI LORINA SARI

Pagi yang cerah di hari minggu anak-anak desa Sindurjan berkumpul di lapangan untuk bermain bersama. Adi, Resa, Titin, Dea berkumpul melingkar mereka tidak bermain dengan anak-anak lain mereka sedang belajar kelompok di bawah pohon yang rindang karena sebentar lagi ulangan umum kenaikan kelas lima akan segera tiba. Adi anak yang paling cerdas di kelas empat, dia selalu juara kelas dan nilai ulangannya bagus-bagus. Tiba-tiba datang Agus mendekati mereka dan ingin belajar bersama. Agus adalah anak baru di desa Sindurjan sekaligus murid baru di sekolah Adi. Awal semester satu samapai sekarang Adi tidak suka dengan Agus karena Agus selalu mendapatkan nilai yang bagus-bagus juga seperti Adi. Ngapain kamu kesini, pergi sana aku gak mau belajar bareng kamu, karena aku lebih pintar daripada kamu dan pasti aku akan dapat juara kelas lagi, kamu gak mungkin bisa ngalahin aku, bentak Adi kepada Agus. Aku tak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin ikut belajar bersama tidak ada niat buat ngalahin kamu, jawab Agus. Dah sana pergi saja aku gak suka kamu disisni, bentak Adi. Akhirnya Agus pun pergi. Adi, kenapa kamu bersikap seperti itu kepada Agus, dia kan hanya ingin belajar bersama, dia juga anak yang baik, nasihat teman-temannya. Ah, aku tidak suka dengan dia karena dia selalu saja menandingi aku, pokoknya pasti besuk aku tetap jadi juara kelas, kata Adi. Akhirnya ujian kenaikan kelas pun telah selesai mereka lalu, hari sabtu ini adalah penerimaan rapot, dengan sombongnya Adi bilang pada semua anak bahwa dia pasti juara kelas lagi, Tapi ternyata setelah rapot dibagikan dan juara kelas diumumkan oleh Guru, yang memperoleh juara kelas adalah Agus sedangkan Adi mendapat peringkat dua. Betapa malu dan sedihnya Adi, dia merasa menyesal telah sombong pada teman-temannnya, Adi meminta maaf pada teman-temannya dan Agus karena telah sombong, Agus dan teman-teman Adi memaafkannya dan mereka memberi nasihat bahwa setiap orang tidak boleh sombong, karena kesombongan itu tidak baik, jika ada yang pintar pasti ada yang lebih pintar.

AYO SARAPAN

OLEH: TRISAKTI LORINA



Ari, Rika, diah, dan Esti adalah empat sekawan. Mereka murid kelas empat SDN Rejowinangun. Mereka selalu bermain bersama dan belajar bersama. Ketika itu pelajaran matematika di kelas suasananya amat tenang karena murid-murid sedang memperhatikan pelajaran yang diberikan bu guru. Tiba-tiba suara kriuk...kriuk...krukk.kruk terdengar keras...murid-murid jadi kaget, ibu guru menenangkan suasana. Sudah ayo perhatikan pelajaran lagi, kata bu guru. Beberapa menit kemudian suara itu terdengar lagi, suara apa itu?? tanya bu guru pada muridnya. Ehm....ehm... saya bu "jawab Ari"  itu suara perut saya mungkin cacingnya laper bu, jawab Ari malu-malu dan diikuti tawa riuh seiisi kelas. Bu Guru lalu bertanya kepada Ari"Apa kamu belum sarapan? Kenapa baru jam pertama sudah lemas begitu?. Iya bu, jawab Ari. Lalu bu guru menasehati semua muridnya,, anak-anak ayo kalian harus sarapan setiap pagi dengan makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat karena karbohidrat sebagai seumber tenaga untuk kalian belajar, jika perut kalian tidak diisi maka perut kalian akan sakit dan bisa terserang penyakit tipus dan magh. Makanan yang mengandung karbohidrat itu seperti nasi, roti, sagu, jagung, dan umbi-umbian seperti ubi dan ketela. Ingat anak-anak kalian harus sarapan ya. Iya bu guru jawab anak-anak serentak, kemudian bel istirahat berbunyi, tiga sahabat Ari lalu segera mengajak Ari pergi ke kantin untuk membelikan Ari makanan dan minuman karena Ari sudah terlihat pucat. Ari kamu harus sarapan setiap pagi agar kamu tidak lemas dan sakit, nasihat Rika, Diah, dan Esti. Iya teman-teman tadi aku lupa sarapan karena bangun kesiangan jadi aku langsung berangkat sekolah tanpa sarapan. Ya sudah kalau begitu besuk kita bawa bekal dari rumah saja agar di sekolah masih bisa sarapan meski sedikit, usul teman-teman Ari. Setuju...........!! Jawab mereka tersenyum dan segera mareka menyantap roti dan es coklat bersama-sama.

Pesan moral: kita tau artri penting sarapan dan sebagai sahabat kita harus perhatian pada sahabat kita apapun keadaan mereka terutama jika dia sedang sakit.

Jumat, 04 Januari 2013

CERITA TIMUN EMAS



Alkisah ada sebuah rumah kecil di pinggir hutan rimba hiduplah seorang perempuan bernama Mbok Dhadap yang berusia paruh baya yang hidup sebatangkara tanpa teman dan saudara. Mbok Dhadap sangat mendambakan kehadiran seorang anak untuk menemaninya. Setiap hari ia berdoa agar mendapatkan seorang anak untuk menemaninya.

Suatu hari ketika sedang mencari kayu di hutan, Mbok Dhadap bertemu dengan raksasa penguasa hutan rimba tersebut yang gemar memakan manusia. Mbok Dhadap gemetar menahan takut, karena tak kuasa menahan rasa takut, Mbok Dhadap tidak sadar bahwa kain jaritnya basah karena kencing.

Raksasa itu tertawa lebar, suaranya bergemuruh memenuhi angkasa dan memekakkan gendang telinga.

“Hua..ha…ha… GGGrrrrrrrhhhhhh…..!!!!!, Hai Perempuan Tua !!! kau jangan takut padaku… mendekatlah aku ingin menitipkan sesuatu untukmu….”

Mbok Dhadap tertunduk, masih menahan rasa takut yang tak terkira.

“Raksasa… kau jangan memakan aku, aku sudah tua.”

Lagi-lagi Raksasa itu tertawa.

“Hua..ha….ha… aku tidak doyan daging perempuan tua sepertimu, selain tidak enak rasanya, aku yakin pasti banyak kumannya….hi…. ngeri…. Hua..ha…ha….”

Mbok Dhadap mulai tenang, karena mengetahui Raksasa itu tidak akan memakannya.

“Kau benar sekali wahai Raksasa…, aku memang jarang mandi, sehingga pasti banyak kumannya. Kau akan sakit bila memakan aku. Apa yang hendak kau titipkan kepadaku, wahai Raksasa ?”

Sang Raksasa kembali tertawa.

“Hua..ha… ha… Mbok Dhadap kau lucu sekali ternyata… Aku mau menitipkan seorang bayi manusia kepadamu, tapi dengan syarat bahwa 15 tahun lagi anak ini akan kuambil untuk kujadikan mangsa. Apakah kau sanggup memenuhi syarat itu?”

Mbok Dhadap hanya terdiam, hatinya sebenarnya gembira mendapat tawaran itu, akan tetapi bagaimana kalau Raksasa itu mengambil anak itu kelak?

Raksasa itu menggeram.

“GGGrrrrrrhhhhhh….. Bagaimana Mbok Dhadap??!! Kalau kau tidak sanggup, anak ini akan ku buang!!!!”

Mendengar itu seketika Mbok Dhadap kaget.

“I..iii..yaaa!!!! Aku sanggup memenuhi persayaratan itu, sekarang serahkan bayi itu kepadaku.”

Akhirnya Raksasa itu menyerahkan seorang bayi perempuan yang mungil, cantik, dan berkulitnya bersih. Mbok Dhadap terpukau melihat bayi perempuan itu.

“Waahh… cantiknya bayi ini.”

“GGgrrrrrhhhh… Ingatlah Mbok Dhadap, 15 tahun lagi aku akan datang untuk mengambil anak ini… ingatlah itu Mbok Dhadap… HHHHhmmmhhhh…. Hua..ha..ha….” kemudian Raksasa itu pergi meninggalkan Mbok Dhadap dan bayi itu.

***

Mbok Dhadap memberi nama bayi perempuan itu Timun Mas, karena kulitnya yang bersih dan berkilau laksana emas. Mbok Dhadap sangat menyayangi Timun Mas, Dia merawatnya dengan penuh kasih dan cinta. Mbok Dhadap tidak merasa sepi lagi, ada Timun Mas yang menemaninya sekarang. Meskipun bukan anak kandungnya sendiri, Mbok Dhadap telah menganggap Timun Mas sebagai anaknya. Timun Mas memanggil Mbok Dhadap dengan sebutan Biyung yang berarti Ibu.

Waktu terus berjalan tanpa henti, tanpa terasa 15 tahun sudah berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi sosok gadis yang anggun dan rupawan, parasnya cantik, rambutnya yang lebat terurai panjang sehingga semakin memancarkan aura kecantikannya. Menjelang waktu yang telah dijanjikan, Mbok Dhadap merasa sedih dan bingung lalu memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menyelamatkan Timun Mas. Hingga suatu ketika doanya dijawab lewat mimpi. Dalam mimpinya, Mbok Dhadap diminta memberikan tiga jenis barang untuk dibawa Timun Mas ketika dikejar Raksasa jahat itu yaitu biji mentimun, jarum dan sepotong terasi. Mbok Dhadap segera menyiapkan ketiga barang tersebut untuk diberikan kepada Timun Mas.

Akhirnya dengan rasa sedih yang amat sangat, Mbok Dhadap menceritakan permasalahan itu kepada Timun Mas.

“Anakku, Timun Mas, Biyung tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkanmu. Lima belas tahun yang lalu raksasa itu menitipkanmu kepadaku. Sekarang waktu itu telah tiba. Raksasa itu akan datang membawamu. Timun Mas, jaga dirimu Nak…,” ujar Mbok Dhadap sambil terisak menangis.

Timun Mas merasa bersedih karena harus meninggalkan biyungnya sendiri. Ia tak sampai hati meninggalkan orang yang telah merawatnya dari kecil hingga dewasa tersebut.

“Biyung, aku mau di sini saja menemani Biyung, merawat Biyung, aku tidak takut kepada Raksasa itu Biyung, ” kata Timun Mas terisak meneteskan air mata, kemudian keduanya berpelukan erat.

Mbok Dhadap hanya menghela nafas panjang, ada kegalauan yang sangat di dalam hati Mbok Dhadap.

“Timun Mas anakku, jangan kau khawatirkan Biyung. Raksasa itu tidak akan memangsa biyung, karena dia hanya menginginkanmu, sudah…,” Belum sampai kalimat Mbok Dhadap selesai tiba-tiba terdengar suara keras dari luar rumah.

“GGGGggggrrhhh!!!!!! Mbok Dhadap!! Keluarlah! Aku datang menagih janji kepadamu! Serahkan anak itu kepadaku untuk kumangsa!!!! Mbok Dhadap!!! Keluarlah!!!”

“Timun Mas anakku, cepatlah kau pergi Nak, tidak ada waktu lagi. Segera pergilah lewat pintu belakang Ingatlah baik-baik pesan Biyung. Pertama kali, sebarkan biji mentimun ini mana kala raksasa itu mendekat, lalu jika ia mendekat lagi, lemparkan jarum ini kepada Raksasa itu dan jika ia masih mendekat lagi lemparkan terasi ini anakku. Cepatlah kau pergi anakku, selamatkanlah dirimu. Percayalah, Biyung akan baik-baik saja”.

Dengan penuh rasa haru dan sedih Timun Mas segera berlari keluar dan meninggalkan rumah Mbok Dhadap untuk menyelamatkan dirinya. Sedangkan Mbok Dhadap keluar menemui raksasa jahat yang lapar itu.

“Ada apa, Raksasa? Bukankah masih lama waktu 15 tahun itu?” Mbok Dhadap mencoba mengulur waktu agar Timun Mas dapat selamat dari ancaman raksasa itu.

“Ggggrrgggghhhh!!!! Aku tidak mungkin salah. Hari ini adalah genap 15 tahun semenjak aku menyerahkan bayi itu kepadamu, sekarang serahkan bayi itu kepadaku!”

“Dia tidak ada di sini Raksasa. Percayalah, dia sudah mati beberapa tahun lalu,” Mbok Dhadap mencoba membohongi raksasa itu.

“Tidak mungkin, aku masih bisa mencium bahwa bayi itu masih hidup, sekarang serahkan kepadaku atau aku akan memaksamu!”

Saat itulah, Raksasa melihat ada seorang gadis yang berlari kencang meninggalkan rumah itu.

“GGGGrrrrrrrrrGggghhhhh!!! Jangan kira kau bisa membohongiku Mbok Dhadap, itu dia bayi itu! Wah, anak itu pasti lezat sekali…. aku akan mengejarnya !” Raksasa itu segera berlari mengejar Timun Mas tanpa menghiraukan Mbok Dhadap yang menjerit histeris memohon agar Raksasa itu tidak mengejar Timun Mas.

***

Timun Mas berlari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah Mbok Dhadap. Namun, sekencang-kencangnya Timun Mas berlari, kecepatannya tidak sebanding dengan kecepatan lari Raksasa itu dengan terengah-engah. Timun Mas meilhat bahwa Raksasa itu kian mendekat.

“Celaka, Raksasa itu cepat sekali larinya… bagaimana ini?” Timun Mas bingung dan takut dan pasrah.

Raksasa itu semakin dekat, semakin dekat dan sekarang hanya berjarak puluhan meter dari Timun Mas yang masih mencoba berlari itu. Di tengah kebingungan dan rasa takutnya, Timun Mas ingat pesan biyungnya untuk menyebarkan biji timun pertama kali manakala raksasa itu mendekat. Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera saja Timun Mas menyebarkan biji mentimun itu ke hadapan Raksasa itu. Ajaib, seketika itu juga, biji timun yang disebar oleh Timun Mas itu berubah menjadi hutan mentimun yang dengan buah yang ranum dan segar sehingga membuat Raksasa itu terpana melihat keranuman buah mentimun yang membentang di hadapannya.

“Wah…. ranum benar mentimun ini, kebetulan aku sedang haus dan lapar.”

Raksasa seperti terhipnotis sehingga memutuskan untuk menikmati buah mentimun itu tanpa mengingat lagi bahwa Ia sedang mengejar Timun Mas.

“Kres!!..Kres!!!… Nyam, Nyam…. Wah !!! Segar sekali mentimun ini !!! Huahhhhh!!! Nikmat sekali….”

Melihat keajaiban itu, Timun Mas tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia terus berlari kencang meninggalkan raksasa yang kelaparan itu.

Waktu terus berlalu. Raksasa itu rupanya terlena dengan kesegaran buah mentimun yang menghampar di hadapannya. Setelah sekian lama ia memakan buah mentimun itu, ia tersadar dari pengaruh hipnotis buah mentimun itu.

“Hua…… kurang ajar, rupanya aku terhipnotis hutan mentimun ini…. Di mana anak itu…. Hai, berhenti !!!” Raksasa itu segera berlari mengejar Timun Mas.

Tak berapa lama waktu berjalan, raksasa itu telah berhasil mendekati Timun Mas kembali. Karena Raksasa itu kian mendekat, Timun Mas segera melemparkan jarum itu kepada Raksasa itu. Benar-benar ajaib, jarum yang dilempar itu seketika berubah menjadi hutan bambu yang lebat dan penuh duri, sehingga menyulitkan Raksasa itu untuk mengejar Timun Mas. Melihat itu, Timun Mas segera berlari sekencang-kencangnya meninggalkan raksasa jahat yang terjebak dalam hutan bambu yang lebat dan penuh duri itu. Harapannya hanya satu yaitu agar lolos dari cengkeraman Raksasa jahat itu.

Timun Mas terus saja berlari menjauh, sedangkan Raksasa jahat mengalami kesulitan untuk menembus hutan bambu yang penuh duri itu. Namun, dengan kekuatannya, akhirnya Raksasa itu berhasil menembus hutan bambu berduri itu dan kembali mengejar Timun Mas. Tak berselang lama, Raksasa itu telah berhasil mendekati Timun Mas Kembali. Melihat itu semua, Timun Mas sudah pasrah dan putus asa dan yakin bahwa Raksasa itu akan berhasil menangkapnya.

“Oh, Tuhan, apakah benar ini takdirku? Tertangkap raksasa dan mati di tangannya. Oh, Tuhan tolonglah aku. Siapa yang akan merawat Biyung nanti ? Oh, Tuhan….” Timun Mas menangis sedih.

Di sela-sela keputusasaannya itu, tiba-tiba Timun Mas teringat bahwa ia masih mempunyai satu senjata lagi yaitu sepotong terasi. Oleh karena itu, begitu raksasa itu mendekat, Timun Mas segera melemparkan sepotong terasi itu kepada raksasa itu. Benar-benar ajaib, sepotong terasi yang ia lemparkan berubah menjadi sebuah lautan lumpur yang dalam, sehingga raksasa itu terperosok ke dalamnya. Semakin lama Raksasa itu berontak, semakin tenggelam pula tubuhnya, hingga akhirnya tubuh raksasa itu benar-benar tenggelam dan matilah raksasa jahat itu ditelan lautan lumpur tersebut.

Timun Mas menghela nafas panjang. Rasa lega, letih, dan bahagia menyelimuti hatinya. Tak henti-hentinya Timun Mas bersyukur karena doa dan harapannya dikabulkan Tuhan, Timun Mas yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan setiap doa mahluknya apabila berdoa dengan tulus dan kesungguhan hati dan berusaha dengan keyakinan penuh. Tanpa menunggu lama Timun Mas memutuskan kembali ke rumah Mbok Dhadap dan akhirnya mereka berdua hidup bahagia dalam nuansa kasih sayang antara orang tua dan anak.

Penulis : Fajar Triyanto I Editor: Dian, Edi Kusumawati

SUMBER: http://anaknusantara.com/klasik-2/kisah-timun-mas-dan-raksasa

SEMUT DAN BELALANG


Semut dan BelalangPada siang hari di akhir musim gugur, satu keluarga semut yang telah bekerja keras sepanjang musim panas untuk mengumpulkan makanan, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan selama musim panas. Saat itu seekor belalang yang kelaparan, dengan sebuah biola di tangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makan untuk dirinya.

"Apa!" teriak sang Semut dengan terkejut, "tidakkah kamu telah mengumpulkan dan menyiapkan makanan untuk musim dingin yang akan datang ini? Selama ini apa saja yang kamu lakukan sepanjang musim panas?"

"Saya tidak mempunyai waktu untuk mengumpulkan makanan," keluh sang Belalang; "Saya sangat sibuk membuat lagu, dan sebelum saya sadari, musim panas pun telah berlalu."

Semut tersebut kemudian mengangkat bahunya karena merasa gusar.

"Membuat lagu katamu ya?" kata sang Semut, "Baiklah, sekarang setelah lagu tersebut telah kamu selesaikan pada musim panas, sekarang saatnya kamu menari!" Kemudian semut-semut tersebut membalikkan badan dan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa memperdulikan sang Belalang lagi.

Ada saatnya untuk bekerja dan ada saatnya untuk bermain.

SUMBER: http://www.ceritakecil.com/cerita-dan-dongeng/Semut-dan-Belalang-43

Senin, 31 Desember 2012

POLA HIDUP SEHAT

PENGARANG: TRISAKTI LORINA

Suasana di ruang kelas empat SDN Ngupasan begitu tenang, murid-murid memperhatikan pelajaran dengan tertib. Pagi ini murid kelas empat belajar tentang pola hidup sehat. Selamat pagi murid-murid"sapa Bu Nikmah" hari ini kita akan belajar tentang pola hidup sehat karena menjaga kesehatan itu penting agar kaian tidak mudah sakit. Nah sekarang ibu jelaskan apa saja pola hidup sehat yang sebaiknya kalian lakukan di rumah maupun di sekolah dan dimanapun kalian berada. Misalnya saja kaian tidak boleh jajan sembarangan karena banyak makanan di pinggir jalan yang kotor dan mengandung bahan kimia berbahaya seperi bahan pewarna tekstil dan pengawet formalin, mungkin juga cara memasaknya juga tidak bersih.Coba siapa yang tahu bahan makanan apa saja yang biasa mengandung pewarna buatan dan formalin? Saos dan bakso bu,, jawab Nisa. Benar sekali jawaban Nisa. Lalu sebelum makan apa yang sebaiknya kalian lakukan? Mencuci tangan dengan sabun bu guru,, betul sekali anak-anak karena disekeliling kita banyak sekali kuman dan virus berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan pencernaan seperti penyakit muntaber dan diare. Nah sekarang ayo kita praktek mencuci tangan dengan sabun dengan benar ya nanti ibu juga akan mengajari kalian mencuci buah dan sayur dengan benar. Tapi sebelum kita praktek ibu berpesan agar kalian selalu menjaga kesehatan dan alangkah baiknya membawa bekal dari rumah.